Yaya Sung ibarat Sisifus. Ia memang tidak menyunggi batu ke arah bukit, tapi seperti bersetia pada kesia-siaan dari helai demi helai poster di sebuah tembok pameran
— Arief Koes Hernawan (Majalah Gatra - Maret 2014)
Apa peran pameran—bertema politik sekalipun—yang tak henti-hentinya dibikin, dan kemudian dilupakan? Bagaimana mesti mengingatnya, dengan cara apa, dan apa pula sumbangannya bagi khayalak ramai?
— Hendro Wiyanto (Majalah Tempo - Maret 2014)

SEBUAH UPAYA (AN ATTEMPT)

Performance Work. Photography printed on paper,  White Paint,  Residues of Performance Act.
200 x 140 cm
2014


POSTER EVENT: An Attempt of Asking Through Repetition.
1x25Hour Project at Cemeti Art House. 2014. Yogyakarta - Indonesia

English text:

Yaya Sung’s work exhibited here consists of layer upon layer of photography printed on paper and pasted on the wall, which she then tore off and painted over: this process takes place repeatedly over the 2 x 25 hours that was designated to her. The repeated act of putting the work up only to tear it off again may be seen as an attempt to question the role of art practice, where artworks are continuously being produced and exhibited yet their impacts are rarely thoroughly direct or clear. 

In the remaining layers of paper, the images are no longer distinguishable. In the beginning of the process, they show Yaya’s self-portraits with various objects that resemble objects used by artists in a number of exhibitions at Cemeti Art House that she considers to have strong political motivations (“Slot in the Box”, 1997 and “Knalpot, 1999).

- Mitha Budhyarto

AN ATTEMPT: Final Residues of 1x25 Hours Performance. Photographs printed on Paper, Glue, White Paint.
1x25 Hours Project at Cemeti Art House. Yogyakarta - Indonesia. 2014

Indonesian text:

Karya Yaya Sung yang dipamerkan disini terdiri dari lapis demi lapis foto yang dicetak diatas kertas dan ditempel ke permukaan dinding, yang kemudian disobek dan ditutup dengan cat: proses ini terjadi secara berulang-ulang selama masa 2 x 25 jam yang menjadi jadwalnya. Aksi menempel karya dan menghapusnya lagi secara berulang-ulang dapat dilihat sebagai upaya untuk mempertanyakan peran praktik kesenian – terutama, bagaimana karya seni terus menerus dibuat dan dipamerkan, sementara dampak yang mereka hasilkan tidak selalu nyata maupun jelas.

Pada lapisan kertas yang tersisa, gambar yang ada pada kertas nyaris tidak terlihat lagi. Pada awalnya, mereka memuat potret diri Yaya disertai sejumlah benda yang menyerupai benda-benda yang pernah dipakai oleh beberapa seniman pada pameran di Rumah Seni Cemeti yang dianggapnya memiliki motivasi politis yang kuat (“Knalpot”, 1999 dan “Slot in the Box”, 1997)  - Mitha Budhyarto