Cemeti Art House

1x25 JAM di Majalah Tempo 16 Maret 2014

Dua puluh lima tahun perjalanan Galeri Cemeti Yogya sebagai galeri alternatif digelar dalam sebuah pameran.

Suatu ketika, pada awal 2000-an, Mella Jaarsma, pendiri Galeri Cemeti, berujar, apa yang sering disebut sebagai ruang seni alternatif di Indonesia pada umumnya bukanlah sebuah kenyataan, melainkan harapan. Pasalnya, ruang itu bukanlah alternatif terhadap sesuatu yang mapan. Lembaga semacam itu, kata dia, tidak ada di Indonesia. Mungkin saja Mella lupa bahwa sudah lama para seniman di Indonesia getol mengkritik keberadaan lembaga mapan seperti Taman Ismail Marzuki dan Taman Budaya. Lembaga-lembaga itu menguasai aliran dana (dari pusat), mengkonstruksi pemusatan makna melalui mediasi, produksi, dan mazhab tertentu seni di Indonesia. Mella rupanya menempatkan ruang alternatif dalam kaitan seperti apa yang khas terjadi di dunia seni Barat. Tentu, itu tidak sepenuhnya keliru. Gagasan alternatif itu, di Barat misalnya, telah muncul dalam bentuk ruang baru sejak 1990-an, yang diinisiasi sendiri oleh seniman (artist-run initiatives), dan munculnya sang pencipta pameran yang independen (ausstellungmache, a maker of exhibitions), sudah sejak akhir 1960-an. Posisi independen itulah yang dulu oleh Harald Szeemann (1933-2005) digunakan sebagai amunisi ampuh untuk menentang struktur berjenjang dalam lembaga mapan bernama museum. Selama seperempat abad, di Yogya, Mella dan Nindityo berupaya dengan gigih membumikan apa yang disebutnya sebagai "harapan" akan datangnya alternatif. Pasangan seniman ini mendirikan Galeri Seni Cemeti (1988), lalu menjadi Rumah Seni Cemeti (1999). Dan selama kurun panjang itu, perkembangan seni rupa kontemporer di Indonesia memperoleh dukungan dan dorongan kuat dari mediasi yang dilakukan oleh Cemeti. Dan bukankah dalam kurun itu, tak muncul juga lembaga mapan—sekelas museum—yang diandaikan keduanya? Namun itu tidak juga berarti bahwa kemapanan adalah sejenis "strawman argument", sosok jejadian yang selama itu hanya bisa dibayangkan seniman untuk melancarkan sekadar dalih (ruang) alternatif. Dan kini, Cemeti telah mendunia.

Read More

1x25 JAM exhibition

Mari datang dan menyaksikan presentasi akhir dan pameran "1x25 Jam" pada hari Selasa, 25 Februari 2014 jam 19.30 dengan penampilan spesial dari Wukir Bambu.Pameran kelompok akan berlangsung dari tanggal: 25 Februari - 6 Maret 2014 Diskusi: Jumat, 28 Februari 2014, jam 19.30.

Please join us on Tuesday, February 25th 2014, at 7.30 PM for the final presentation and exhibition of "1x25 Hours" with special performance from Wukir Bambu. The group exhibition is running from: February 25th - March 6th 2014. Discussion will be hold on: Friday, February 28th 2014, at 7.30 PM.

[Artwork image: "Visual Pilgrimage" by Saleh Hussein, 2014]

x