My Writings on Cobra Magazine

Blink, Glance, Gaze of an Active Agent

Blink, glance, gaze atau kedip, kilas, tatap merupakan tajuk pameran yang diusung oleh Mitha Budhyarto, selaku kurator pameran saya dan Angela Judiyanto. Awalnya saya ingin mengulas tentang karya-karya yang pada tanggal 2 November akan mengisi ruang galeri Dia.Lo.Gue, namun pembahasan mengenai ‘ways of seeing’ sebagai introduksi pameran, terasa lebih tepat.

Mengapa proses ‘melihat’ menjadi begitu penting?

Saya ingin bercerita sedikit tentang pengalaman mengunjungi pameran “Design Ah!” di 21_21 Design Sight, Tokyo beberapa bulan lalu. Sebuah pameran yang berbasis dari program pendidikan di stasiun TV NHK. Pameran ini menyoroti fungsi desain yang menjadi elemen substansial di dalam kehidupan, baik di dalam tubuh politik, ekonomi, sains, maupun aktivitas sosial. Dari bermacam permainan visual yang menggelitik sensitivitas indera mata, kulit, dan telinga yang dipamerkan, tulisan Yugo Nakamura yang ditujukan untuk anak-anak, menjejakkan kesan yang paling dalam.


To Children

Most of “making” is about “seeing”. The start of making things has its roots in the things I have seen until now. In this world, what and how we “see” is the foundation of all things “created”. The first thing I thought of on this children’s program “Design Ah!” was on this act of “seeing”

Many beautiful and interesting things lie hidden around us. If there was one thing that you could “see” only with your own eyes without telling a single soul; that would be something for you alone… your own private world. Revel in the joy of something from it…and show it to everyone. And I promise you, that “your” bountiful creation is sure to bring bounty even to the next “you” who sees it.

This “Design Ah! Exhibition” shows many things in many ways. But just like “Design Ah!” on TV, remember that “you” are the one “seeing”


Motivasi dan dorongan positif yang begitu kuat untuk berbagi pengalaman ‘melihat’ sudah ditanamkan sejak dini. Usaha yang baik ini datang dari pemerintah, akademisi, hingga praktisi seni. Saya iri melihat penduduk Tokyo yang setiap akhir pekan dapat berkumpul bersama keluarga, mengunjungi museum-museum yang sangat baik. Hidup dan bekerja di Jakarta, kita terdidik menjadi pribadi konsumtif dalam lingkup ruang mall ibukota, terdidik untuk menghabiskan sebagian besar hari di dalam kemacetan, terbiasa mengunyah berita tentang kehidupan pribadi selebritis hingga aib para wakil rakyat, bagai kerupuk udang gurih, yang menjadi pelengkap di jam makan siang. Mari mengeluh bersama, sebentar saja.

Semua hal yang kita telan dan rasakan, setiap kedipan, kilasan dan tatapan pada objek yang sama memberikan rasa, makna, dan impresi yang berbeda pada setiap lidah dan dua bola mata yang ada di dunia. Taku Satoh, exhibition director dari program Design Ah!, berkata “As we enter an age of instant access to giant pools of information, how we go beyond passiveness and willingly feel, choose, and broaden our minds toward the things that matter in our lives is becoming an issue of ever-greater importance.” Apakah harum kopi saat hujan pagi, atau rasa geram ketika melihat kemacetan Jakarta yang berdarah dingin dapat menjadi jejak awal terciptanya sebuah kreasi visual? What’s stopping us from coloring the world with our own standpoint? Mungkin ini mengapa sebuah “kejujuran dalam berkarya’” menjadi sesuatu yang sangat klise dan sering terucap. Mengutip Marshall di TV seri How I Met Your Mother, “A cliché is a cliché for a reason. It's comforting.” Setiap individu memiliki naluri alami untuk mencipta, dan terlebih untuk didengar. Penciptaan yang dimulai dari rasa nyaman, memiliki titik balik kecintaan terhadap ‘our own ways of seeing’.

Satu pertanyaan yang jawabannya mungkin datang saat mata terpejam, apa yang sering mengganggu ‘kenyamanan’ dalam proses mencipta? Seorang “active agent” nalurinya terus berupaya agar satu kisah manis, satu pertanyaan, satu keputus-asaan, atau segala proses kognisi yang niscaya terus tercipta selama sang agen bernafas, menjadi suatu bentuk konkret yang memiliki daya. Ungkapan “active agent” yang sangat baik ini saya temukan di dalam buku John Berger, Ways of Seeing.

If the new language of images were used differently, it would, through its use, confer a new kind of power. Within it we could begin to define our experiences more precisely in areas where words are inadequate. (Seeing comes before words.) Not only personal experience, but also the essential historical experience of seeking to give meaning to our lives, of trying to understand the history of which we can become the active agents.

“Seeing comes before words. The child looks and recognizes before it can speak.” Berbagi cerita dengan kreasi, terus hidup, dan menjadi active agent. Dari kilas, menjadi kedip, kemudian mantap menatap.

 

Jakarta, Oktober 2013
Yaya Sung


Blink, Glance, Gaze of an Active Agent di majalah Cobra: [link]

Blink, Glance, Gaze - wide
Blink, Glance, Gaze - wide