Wani Ditata Project

click image to enlarge 

The Jakarta Arts Council presents:

A Women Artists Project of The Jakarta Arts Council: WANI DITATA PROJECT

Artists: 
Aprilia Apsari, Julia Sarisetiati, Kartika Jahja, Keke Tumbuan, Marishka Soekarna, Otty Widasari, Tita Salina, Yaya Sung

Curator: Angga Wijaya

Opening Night:
Saturday, 3 October 2015 | 19.00  – 22.00 WIB

Special performance:
Disrobot Radio
Irama Nusantara

Exhibition:
4 – 19 October 2015
11.00 – 20.00 WIB

Discussion on “The Image of Dharma Wanita in Social Context”:
Tuesday, 6 October 2015 | 15.00 – 17.00 WIB
Guest Speaker: Julia Suryakusuma & Manneke Budiman
Moderator: Maulida Raviola

at Galeri Cipta II
Jl. Cikini Raya No.73
Taman Ismail Marzuki
Menteng, Jakarta Pusat 10330

Free and for Public!


(Indonesian Text)

Proyek Seni Rupa Perempuan

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah proyek seni sering muncul dalam berbagai diskusi dan tulisan seni rupa di Indonesia. Seni sebagai sebuah proyek—di mana di dalamnya terdapat berbagai kemungkinan pengembangan ide, baik secara kolaborasi dan individu—memang tidak terlalu dekat dengan sejarah seni rupa kita. Namun, jika merujuk pada sejarah, yang telah dilakukan oleh para founding fathers seni rupa modern kita sebenarnya ada yang sudah mengarah pada bentuk proyek seni seperti yang kita terjemahkan saat ini. Lihat saja proyek poster revolusi pascakemerdekaan Indonesia yang digagas oleh S. Sudjojono dan Affandi bersama Seniman Indonesia Muda (SIM). Ia tidak hanya meletakkan seni sebagai kegiatan mendedah estetika rupa, namun menjadi alat perjuangan yang berkolaborasi dengan para penulis pada masa itu, seperti Chairil Anwar. Seni rupa sebagai sebuah proyek seni memang tidak berkembang di Indonesia karena kecenderungan subjektivitas seniman dan orientasi untuk memproduksi kebendaan berupa 'karya' sebagai hasil akhir. Sebuah proyek seni menuntut keterbukaan dalam mengembangkan ide sebagai proses kerja. Keterbukaan itu bisa jadi berkolaborasi dengan aktivitas yang tidak ada hubungannya dengan kesenian.

Mulai tahun 2015, Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta menginisiasi proyek seni seniman perempuan:Wani Ditata Project. Proyek seni ini adalah tanggapan Komite SR-DKJ terhadap perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia, bahwa kegiatan seni yang mengarah pada riset dan fokus pada isu tertentu menjadi sangat relevan saat ini. Relevansi proyek seni ini adalah bagaimana pengembangan kegiatan kesenian dengan durasi tertentu dan mendalami satu subjek wacana akan sangat berdampak pada perkembangan seni rupa kontemporer—di mana dalam proses kerja sebuah proyek seni terdapat produksi ilmu pengetahuan yang akan didistribusikan di akhir proyek.

Wani Ditata Project dengan sengaja mengundang delapan seniman perempuan dari Jakarta dan kurator muda Angga Wijaya sebagai fasilitator dalam mengembangkan proyek seni ini. Tujuan mengundang seniman perempuan adalah untuk membaca perkembangan seni rupa kontemporer di Jakarta, di mana seniman perempuan juga menjadi pemain utama saat ini. Sejak berdiri, Komite SR-DKJ belum pernah secara khusus meletakkan isu perempuan ini dalam program-programnya. Untuk itulah Komite SR-DKJ merasa perlu secara khusus mengembangkan proyek seniman perempuan, sekaligus untuk merangkum wacana sosial-politik kebudayaan yang dibaca melalui seniman-seniman perempuan. Semoga saja proyek seni ini dapat berkembang dan berkontribusi bagi perkembangan seni rupa kontemporer kita.

Salam,

Hafiz Rancajale
Ketua Komite Seni Rupa
Dewan Kesenian Jakarta
2013 - 2015


(English text)

Women's Art Project

In the last few years, the phrase ‘art project’ has been appearing in various art discussions and writings in Indonesia. Art as a project—referring to various possibilities of art development, both in collaboration and individually—has not been familiar in our art history. However, with the gift of hindsight, what the founding fathers of our modern art did actually led to the art project the way we interpret it nowadays. One simply can look at the project of Indonesian post-independence revolution poster, initiated by S. Sudjojono and Affandi together with Seniman Muda Indonesia, SIM (Indonesian Young Artists). S. Sudjojono laid down the foundation of art not just as an activity to investigate the aesthetic, but also as a means of struggle in collaboration with writers of the era, such as Chairil Anwar. Art as an art project hasn’t seen much development in Indonesia due to artists’ inclination of subjectivity and orientation to produce materiality, meaning work of art or object-based, as the end result. An art project in its process requires openness to develop what constitutes as 'art'. This openness takes collaborative form of carrying out an activity that seems to have nothing to do with art.

In 2015, the Art Committee of the Jakarta Arts Council started a women artists’ project called Wani Ditata Project. This project is the Art Committee’s response to the Indonesian contemporary art development, taking into account the fact that art activities based on research and focusing on certain issues are becoming increasingly relevant today. The relevance of such project shows how art activity developed within a certain period of time and delving into a subject of discourse will have a significant impact on the contemporary art development—in the process production of knowledge also takes place that will be distributed by the end of the project.

Wani Ditata Project deliberately invites eight women artists of Jakarta and a young curator, Angga Wijaya, to facilitate this project’s development. The objective of inviting these women artists is to read the Jakarta contemporary art development in which they become the main players nowadays. Since its conception, the Art Committee of JAC has never particularly raised women issues in its programs. Thus the committee felt the need to specifically establish a women artists’ project while at the same time collecting the cultural, social and political discourses read through these artists. Hopefully this project will thrive and contribute to our contemporary art development.

Sincerely yours,

Hafiz Rancajale
Chairman of Art Committee
Jakarta Art Council
2013 - 2015