MEMORIAL KAMIS PAYUNG HITAM
(THE BLACK UMBRELLA THURSDAY MEMORIAL)

Mixed media of Video, Photography, Design, and Photo-installation.
Dimensions Variable
2013-2014


The Black Umbrella Thursday Memorial: Logo Design

Indonesian text: 

Mei 1998 diperingati sebagai lahirnya Reformasi di Indonesia, mengakhiri tiga dekade rezim autoritarian Soeharto. Tapi 16 tahun sejak proses demokratisasi di negara ini mulai, banyak yang masih harus dilakukan berkaitan dengan pertanyaan apakah Indonesia saat ini lebih baik atau lebih buruk daripada sebelum Reformasi. 

Selama kekacauan politik di Indonesia pada tahun 1997-1998, para aktivis demonstrasi menentang Orde Baru rezim Suharto, diculik—13 dari mereka tidak pernah muncul kembali. Enam mahasiswa ditembak mati oleh pasukan keamanan selama demonstrasi di Universitas Trisakti di Jakarta, dan belasan lainnya luka-luka.

Ticket is required to enter the Fictive Memorial. (click image for larger view)

Staff checking out tickets from visitors at Koganecho Bazaar 2014. Yokohama - Japan.  Photo by: Masaru Kaido

Staff checking out tickets from visitors at Koganecho Bazaar 2014. Yokohama - Japan.  Photo by: Masaru Kaido

 MERCHANDISE AREA: Photography and Design Applied to Various Merchandise Items. Credit to Selected Wall Photos and Postcard Material  to ANTARA News. Koganecho Bazaar 2014, Yokohama - Japan. Photo by: Masaru Kaido

JALAN SEPI (LONELY ROAD):  47 Photographs, 1.5x1.5 cm , Loupe (magnifying glass)

Karya Yaya Sung berfokus pada narasi pasca-1998 Indonesia yang tetap ada, tergores dan tertanam dalam memori kolektif orang Indonesia. Karyanya didedikasikan untuk keluarga korban, yang menggelar protes diam, bersama keluarga korban pelanggaran hak asasi manusia dan orang hilang, di depan Istana Negara, setiap minggu sejak 2007. Protes diam ini disebut Kamisan. Protes ini kini telah menjadi simbol perjuangan tak kenal lelah untuk menegakkan hak asasi manusia di Indonesia. Para pengunjuk rasa berpakaian hitam, berpayung hitam hitam dan membawa poster-poster bertuliskan seperti "Usut kasus penghilangan paksa aktivis 1997/1998" dan "Usut kerusuhan Mei 1998". Mereka berdiri di depan Istana Negara di Jakarta dari pukul 4 hingga 5 sore. 

Orang-orang ini dan para aktivis manusia di Indonesia telah mengirimkan surat meminta pertemuan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, hingga saat ini mereka belum menerima satu pun balasan baik dari kantor Presiden atau Presiden sendiri. Bahkan saat ini pemerintah terus menutup mata pada misteri berbagai insiden penghilangan pakasa dan pelanggaran hak asasi di Indonesia. 

MIMPI SEORANG IBU (A MOTHER'S REVERIE) :  Photography on Lightbox Display. 60 x 120 cm

CERITA DARI DAPUR (KITCHEN NOTES):  6 Channel Video and Audio Work. A collaboration work with Joey Christian

Karya Yaya Sung adalah museum buatan tentang Kamisan, terdiri dari 2 lantai, lengkap dengan logo (dalam gaya desain museum pemerintah), tiket masuk, dan barang oleh-oleh (kaos, pena, gelas dan sebagainya). Museum ini terdiri dari lima karya—yang menunjukkan bagaimana memori bekerja dalam berbagai wahana yang mengingatkan orang pada masa lalu yang membentuk hidup mereka: Area Barang Oleh-Oleh, Lonely Road, Kitchen Notes, A Mothers’ Reverie, dan The Room.

Loney Road adalah serangkaian foto benda sehari-hari milik Suciwati, janda mendiang Munir—salah satu juru kampanye hak asasi manusia terkemuka di Indonesia, yang semasa hidupnya mendapati banyak intimidasi, termasuk ancaman kematian. Munir menuduh militer Indonesia melakukan pelanggaran hak asasi manusia di Timor Timur dan di provinsi-provinsi bermasalah di Indonesia, dari Papua hingga Aceh, dan menuduh mereka menjalankan jaringan kriminal yang terlibat dalam penggundulan hutan ilegal dan penyelundupan narkoba. Dia dibunuh pada tahun 2004, dalam perjalanan ke Universitas Utrecht di Belanda untuk mengejar gelar master dalam hukum internasional dan hak asasi manusia... Akan tetapi dalam karya ini, Yaya menunjukkan narasi kecil tentang Munir, alih-alih citra ikonisnya sebagai aktivis—ditampilkan dalam seri foto-foto kecil (1,5 x 1,5 cm). Anda akan butuh kaca pembesar untuk melihat dan membangun keintiman Anda pada kenangan akan Munir. Metafora yang menarik! 

THE ROOM:  Room Installation. 19 Framed Photographs Covered with White Paint. 7  Empty Frames, Audio Installation. White Chair.
 Koganecho Bazaar 2014, Yokohama - Japan. Photo by: 
Yasuyuki Kasagi 

Koganecho Bazaar 2014, Yokohama - Japan. Photo by: Masaru Kaido

Kitchen Notes dan A Mothers’ Reverie adalah karya tentang Ibu Sumarsih, salah satu aktivis Kamisan, ibu dari Benardinus Realino Norma Irawan atau Wawan, yang ditembak mati pada 1998. Kitchen Notes adalah enam single channel video, sementara A Mothers’ Reverie adalah karya foto. Keduanya menggambarkan hubungan antara memasak, makanan, dan ingatan. Bagi Ibu Sumarsih memasak adalah cara untuk menghormati dan mengingat Wawan. Dalam karya-karya ini Ibu Sumiarsih memasak makanan favorit Wawan—ditampilkan dalam format video dokumenter, video neorealis yang diset di studio, dan dalam foto yang dicetak di atas lightbox.

The Room adalah serangkaian foto-foto berbingkai putih dari para aktivis Indonesia yang hilang dan/atau dibunuh, serta para korban pelanggaran HAM, ditambah serangkaian bingkai kosong—yang tampaknya dalam karya ini berperan sebagai semacam tabula rasa bagi ingatan akan kekerasan politik di Indonesia. 

Ketegangan antara fiksi dan realitas, narasi kecil dan besar, politik sehari-hari dan politik negara, memainkan peran krusial dalam karya Yaya Sung. Sebagai seniman Indonesia pasca-1998 Indonesia, dia tengah mencoba menemukan jalannya untuk memahami dan menafsirkan sejarah tersembunyi bangsanya, dan dengan demikian sekaligus ia mengakui pentingnya peran ingatan dalam masyarakat—dan melawan kecenderungan melupakan dan/atau mudah melupakan dalam masyarakat modern. Upaya Yaya adalah upaya menolak lupa.

Antariksa
Sejarawan, KUNCI Cultural Studies Center


English text:
Refuse to Forget:
Yaya Sung’s “And to Never, Never Forget”

May 1998 is celebrated as the birth of Reformasi (reforms) in Indonesia, ending three decades of Suharto’s authoritarian regime. But 16 years since the country’s democratization process began, a lot remains to be done that some question whether the Indonesia of today is better or worse than before the ReformasiDuring Indonesia’s political turmoil in 1997-1998, activists in the demonstrations against the Orde Baru (New Order) regime of Suharto, were kidnapped—13 of them never re-surfaced. Six students were shot dead by security forces during a rally at Trisakti University in Jakarta, and dozen more were injured. 

Yaya Sung’s work And to Never, Never Forget focuses on narrative of post-1998 Indonesia remain left behind, etched and inscribed within Indonesian collective memory. Her work dedicated to the families of the victims, who have held their weekly silent protest with relatives of human rights abuse victims and missing persons protesting in front of the State Palace, every week since 2007. This silent protest called the Kamisan (an Indonesian word reference for every Thursday). It has become a symbol of a relentless struggle to uphold human rights. The protesters—dressed in black and holding black umbrellas with message such as “Investigate the forced disappearances of activists in 1997/1998” and “Investigate the May 1998 riots”—stand in front of the State Palace in Jakarta from 4 p.m. until 5 p.m.

These families and human activists in Indonesia had sent letters requesting a meeting with President Susilo Bambang Yudhoyono. However, until today they have yet to receive a reply from either the President’s office or the President himself. Even today the government continues to turn a blind eye to the mysteries behind the disappearances during many incidents. Yaya Sung’s work is a two storage mock museum or memorial of the Kamisan—complete with its logo (in Indonesian government-run museum’s design style), entrance ticket, and merchandise (t-shirt, pen, jar mug and so on). The memorial consist of five works—showing how memory works through various vehicles that give people a sense of their past: a merchandise area (a museum shop-like area), Lonely RoadKitchen NotesA Mothers’ Reverie, and The Room.

Lonely Road is a series of photographs showing everyday objects from Suciwati, widow of Munir—one of Indonesia’s leading human rights campaigners and faced intimidation, including death threats. Munir accused the Indonesian military of human rights violations in East Timor and in the troubled provinces of Papua and Aceh, and accused them of running a criminal network involved in illegal tree logging and drug smuggling. He was assassinated in 2004 while travelling to Utrecht University in the Netherlands to pursue a master's degree in international law and human rights… But in this work, Yaya shows small narrative of Munir, rather than his iconic imagery as a famous activist—presented in series of tiny photographs (1.5 x 1.5 cm). You will need magnifying glass to see it and to develop your intimacy with the memories of Munir. What a metaphor!

Kitchen Notes and A Mothers’ Reverie are about Ibu Sumarsih, one of the Kamisan activist, mother of Benardinus Realino Norma Irawan or Wawan, who has been shot dead in 1998. Kitchen Notes is six single channel videos, while A Mothers’ Reverie is lightbox. Both depict the relational between cooking, food, and memory. For Ibu Sumarsih cooking is a way to honor and to remember her son, Wawan. In these works Ibu Sumarsih is cooking Wawan’s favorite foods—in a documentary video, neorealist studio set videos, and in a photographic lightbox. The Room is a series of white framed photographs of missing, killed activists and victims of human right violation in Indonesia, plus a series of empty frames—which plays as a kind of tabula rasa to the memory of political violence in Indonesia.

The tensions between fiction and reality, small and big narrative, everyday politics and state politics, plays an crucial role in Yaya Sung’s work. As a post-1998 Indonesian artist, she is trying to find her way to understand and to interpret the hidden history of her country, and by doing so she recognizes the importance of memory to society—against the tendency of forgetting in modern society. She refuses to forget.

Antariksa
Historian, KUNCI Cultural Studies Center