Sanity Chamber
Flexibility 130515 (body chart A)

Composite of Photographs on Matte Poster Paper. Acrylic Glass and White Wooden Frame
40 x 90 cm
2015 


Selama 3 tahun terakhir, karya-karyaku memiliki landasan cerita dari tragedi-tragedi kemanusiaan yang terjadi di Indonesia. Mendalami isu-isu tersebut secara terus menerus sungguh bisa membuat aku gila permanen! Tidak lupa rasa ketidakberdayaan yang amat kuat selalu menyertai.

STUDY OF SANITY - FLEXIBILITY 130315: Composite of Photographs on Matte Poster Paper, 40 x 90 cm. 2015

STUDY OF SANITY - FLEXIBILITY 130315: Composite of Photographs on Matte Poster Paper, 40 x 90 cm. 2015

Beberapa bulan terakhir ini aku sedang semangat mengeksplorasi keseimbangan tubuh dan praktik yoga. Tidak pernah aku sangka bahwa usaha mengenal tubuh, usaha membuka ruang-ruang gerak sendi, meregang otot-otot yang telah lama kaku, ternyata bisa mengantarku, setidaknya setengah jalan, menuju kesehatan jiwa. Aku merasakan proses yang sangat pribadi, dimana ada perubahan-perubahan kecil positif seperti ketenangan, dan rasa damai pada saat maupun setelah latihan, yang sungguh tidak bisa kujelaskan dan tidak bisa kubagikan layaknya membagi cerita atau makanan. Sepertinya satu-satunya jalan untuk memahami ketenangan atau kedamaian apa yang kumaksud, adalah dengan cara ikut melantai-memahami tubuh sendiri.


“Oh kamu belum bisa split yah? Si A sudah bisa loh.”

“Pokoknya ditargetkan saja, minggu depan kamu sudah bisa pose C”

 

Menarik melihat bagaimana selalu ada saja yang menilai keberhasilan seseorang dengan sangat cepat. Nilainya ada dua, bisa atau tidak bisa. Padahal proses, - misalnya menuju ke pose “C” - menurutku adalah bagian yang paling menyenangkan. Justru pada saat itulah aku merasa sangat intim dengan diriku sendiri dan kaya secara emosional. Hal ini juga mengingatkan aku pada arena seni rupa, dimana kecenderungannya (aku pun) sering menilai sebuah karya dari sebuah hasil akhir yang digantung, ditempel, atau disandarkan pada ruang pameran. Sedangkan ada sangat banyak cerita dan rasa di dalam perjalanan terciptanya sebuah karya yang memang sulit, atau bahkan tidak mungkin dapat dibagikan ke khalayak ramai. Perasaan bimbang, kecewa, takut, atau kebahagiaan yang umumnya menyertai pada saat proses penciptaan, mutlak dirasakan oleh sang seniman tersebut. Begitu pula rasa pada tubuh manusia. Pegal, nyeri, dan kepuasan dalam proses pengenalan raga yang sedang aku jalani, secara penuh kurasakan sendiri.

 Kemiripan tersebut yang membuat aku tertarik untuk membuat karya fotografi dari usaha-usaha yang aku lakukan dalam membuka ruang-ruang sendi yang menjadi penghubung antartulang pada tubuhku. Karya ini menyerupai poster yoga atau bagan fleksibilitas tubuh. Bila tolak ukur diambil dari lazimnya poster atau bagan tersebut diproduksi, tentu saja usaha yang kulakukan jauh dari “benar” atau “sempurna”. Tubuh memiliki limitasi, batasan, namun juga kemungkinan. Karya ini kuanggap sebagai tahap awal dari bentuk rekaman proses, bagaimana aku bermain diantara garis pemisah pada limitasi dan kemungkinan itu sendiri. “Mens sana in corpore sano”, semoga dengan semakin “luwes” ruang sendi dalam tubuhku, akan semakin “luas” juga ruang pikir dalam jiwaku.

 
Yaya Sung
Mei 2015