Pameran karya visual dari hasil penelusuran Yaya Sung tentang sebuah majalah bernama Api Kartini. Pameran sekaligus Perayaan atas 57 tahun terbitnya edisi pertama Api Kartini pada tahun 1959. Apa latar belakang pemilihan majalah ini? Mengapa perlu membuat perayaan, dan menjadikan Api Kartini sebagai tema karya? 


Pengantar:

Justin Trudeau, Kim Kardashian, Malala Yousafzai. Ketiganya memiliki peran masing-masing pada wacana global gender equality, tubuh, dan posisi perempuan dalam tatanan sosial masa kini. Di Indonesia, perjuangan perempuan untuk sama - sederajat dengan lelaki sudah bergerak sejak jaman penjajahan Belanda. Gelar Pahlawan Nasional diperoleh Cut Nyak Dien dan Nyi Ageng Serang atas keikutsertaanya dalam berperang melawan Belanda pada abad 19, kemudian Raden Ajeng Kartini dan Dewi Sartika atas kegigihannya memperjuangkan hak dan kebebasan berpendidikan untuk perempuan pada awal abad 20.

Periode setelah penjajahan Belanda dan Jepang menjadi masa keemasan pergerakan perempuan Indonesia. Momentum ini menjadi titik terang perempuan Indonesia dalam ikut mengisi kemerdekaan bangsa. Diangkatnya menteri perempuan pertama, Maria Ulfah, pada tahun 1950 oleh Presiden Soekarno menjadi tanda pengakuan peran perempuan oleh negara. Melonjaknya peran serta perempuan dalam arena politik nasional adalah salah satu upaya agar tercipta perubahan konkret terhadap peraturan pemerintah dan norma sosial yang dianggap membelenggu peran perempuan. Beberapa pergulatan besar pada masa itu adalah penentangan poligami, kawin paksa anak, penuntutan atas kesetaraan upah kerja, penghapusan segala bentuk diskriminasi di tempat kerja, dan pada skala internasional: perdamaian dunia. Semua dilakukan, demi tercapainya kemerdekaan nasional yang sepenuhnya. Kemudian ada kebingungan disini; Kemana kita harus pergi dan melihat apabila ingin kembali menengok, menelusuri, dan mempelajari jejak-jejak keemasan tersebut?

Majalah Api Kartini pertama terbit pada tahun 1959, kontennya berupa rubrik resep masak, menjahit, kecantikan, dan informasi domestik layaknya majalah keluarga umumnya. Yang berbeda adalah majalah ini sarat memuat pergerakan organisasi perempuan dalam skala nasional dan internasional. Sosial, politik, dan budaya menjadi tema di setiap edisi. Sosok dan perjuangan Kartini pun menjadi inspirasi dan landasan utama penerbitan ini. Memiliki pemikiran yang progresif, berperan aktif, dan ‘melek’ politik menjadi ciri-ciri sosok ideal perempuan yang digambarkan majalah Api Kartini. Majalah ini menjadi salah satu bukti sejarah nyata dari masa keemasan gerakan perempuan pada era 60an. Kemudian ada kebingungan lagi disini; Apa yang terjadi pada keberlangsungan majalah yang sepertinya sudah komplit full-package nan keren ini? Mengapa tidak muncul bentuk-bentuk "Api Kartini" lain pada generasi kedepannya? Buah manis apa yang dapat kita nikmati sampai saat ini, dari pengaruh arus emansipasi masa itu?

57 Tahun Api Kartini adalah pameran karya visual dari perjalanan Yaya Sung dalam upaya menelusuri dan mengupas kembali tentang majalah perempuan revolusioner yang terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1959. Penelusuran ini mencakup latar belakang, tujuan, siapa saja pelaku di balik majalah Api Kartini, dan bagaimana jejaknya kini. 57 Tahun Api Kartini mencoba untuk menghadirkan temuan-temuan tersebut dalam warna perayaan. Perayaan atas pencapaian tokoh-tokoh pahlawan nasional yang namanya belum tercatat dalam harum sejarah bangsa.


Yaya Sung
Tangerang Selatan, Oktober 2016


Pembukaan pameran akan diadakan di studio kerja Yaya Sung pada:
Minggu, 09 Oktober, 13:00

Studio Petak 9 Sektor 9:
Jl. Bintaro Utama Raya Kavling No 1 Sektor 9
Tangerang Selatan - 15229

Durasi Pameran:
9 - 13 Oktober 2016
10:00 - 17:40

Info: 081298925743 / hello@yayasung.com