Unfamiliar Roots: Walking Banana

Photography on Platinum Photo Paper. Wooden Frame
60 x 120 cm
2012


Indonesian text:

Dalam foto seri berjudul Unfamiliar Roots – Walking Banana, Stephany Yaya Sungkharisma membungkus dirinya dengan kulit pisang. Kulit pisang menggambarkan sebuah istilah yang dia temukan di sebuah koran berbahasa Inggris saat berlibur ke Shanghai: ‘banana men’, yang mengacu pada orang-orang keturunan Tionghoa yang telah lahir dan menetap di negara Barat (terutama Amerika). Karena budaya Barat – yang mempunyai stereotip kulit putih – telah mendarah daging kepadanya, mereka dianggap seperti pisang: berdaging putih, berkulit kuning. Ini menjelaskan bahwa persoalan utama yang ingin Yaya pahami menyangkut identitas kultural. Sebagai keturunan Tionghoa yang lahir dan besar di Jakarta, bagaimana dia harus memposisikan dirinya di sebuah peta identitas yang terdiri dari dua kebudayaan yang berbeda? Bagi Yaya, pertanyaan “siapa saya” selalu menimbulkan kejanggalan, dimana dua kebudayaan yang seharusnya menjadi ‘rumah’ justru terasa asing. 

Ini dirasakan betul saat dia berlibur ke Shanghai seperti yang disebut diatas: secara fisik dia memang dapat dengan mudah melebur disana, tapi pada saat bersamaan dia adalah turis yang tidak mengenal bahasa dan kebudayaan lokal tempat itu. Rasa bahwa dia tak sepenuhnya memiliki tempat yang pasti di dua dunia kebudayaan ini digambarkan oleh tubuh yang terpenggal-penggal. Meski tak pada tempatnya, bagian-bagian tubuh ini masih merupakan kesatuan anatomi tubuh yang semestinya: tidak ada bagian yang hilang atau diulang. Ini mengingatkan bahwa identitas seseorang tidak selalu harus terdiri dari bagian-bagian yang ‘pas’, tapi juga pecahan-pecahan ambigu yang membuat mereka unik. Karya Yaya disini menunjukkan pengertian yang matang akan ‘konsep’ sebagai lebih dari sekedar penjelasan atas karya, tapi sebuah situs pergulatan buah pikiran dan permasalahan yang seorang seniman coba pecahkan lewat karyanya. 

- Mitha Budhyarto

English text:

In a photo-series entitled Unfamiliar Roots - Walking Banana, Stephany Yaya Sungkharisma wraps herself in a banana skin. The skin of a banana represents a terminology she encountered in an English-speaking newspaper during a visit to Shanghai: ‘banana men’, which refers to Chinese descendants who were born and raised in western countries (in especially America). Since western culture – with its stereotype of being ‘white-skinned’ – have become so ingrained in them, they are likened to a banana: white flesh, with a yellow skin. This shows that one of the main problems that Yaya probes into is the idea about cultural identity. As a Chinese descent who was born and raised in Jakarta, how should she position herself in an identity-map that is made up of two wholly difference cultures? For Yaya, the question of “who am I” always brings with it a sense of unease, for the two cultures that are supposedly ‘hers’ in fact feel foreign and unfamiliar. 

This was strongly felt during the above-mentioned trip to Shanghai: physically she would easily blend in there, but she remains a tourist without the native tongue nor real knowledge about the local culture. The sentiment that she may never wholly feel at home in any of the two cultural worlds is represented in the photographs by her fragmented body. Although they are not in their correct places, these body parts still remain to be the correct anatomical whole: there are no missing or repeated parts. This reminds us that a person’s identity does not necessarily comprise of parts that ‘fit’ together, but ambiguous fragments that make them unique. These works display a strong understanding of ‘concept’, not only in terms of how it explains the reasoning behind a work, but of ‘concept’ as a battle-field of ideologies and problematics that an artist tries to solve with their work.  

 

- Mitha Budhyarto

UnfamiliarRoots-splash